
Selamat datang di Durham Christian Bookstore. Di toko buku ini, kami menyediakan berbagai literatur yang memperkaya iman: mulai dari Alkitab studi, buku-buku teologi, hingga renungan harian yang menguatkan hati. Kami percaya bahwa membaca Firman Tuhan adalah cara utama untuk memberi makan roh kita (“Roti Hidup”).
Namun, sebagai umat percaya, kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang utuh—memiliki roh, jiwa, dan tubuh. Dalam Injil, kita sering melihat Yesus melayani tidak hanya dengan khotbah, tetapi juga dengan makanan. Ia memberi makan lima ribu orang. Ia sarapan ikan bakar bersama murid-murid-Nya di tepi danau setelah kebangkitan. Ia duduk makan bersama pemungut cukai.
Artikel renungan kali ini ingin membahas pentingnya menyeimbangkan asupan rohani (melalui buku dan doa) dengan asupan jasmani yang menghangatkan dalam konteks persekutuan (koinonia). Bagaimana semangkuk makanan hangat bisa menjadi sarana penyalur kasih Tuhan kepada sesama?
Persekutuan di Meja Makan
Di zaman yang semakin individualis ini, banyak orang merasa kesepian meskipun mereka rajin ke gereja. Mereka datang, duduk, mendengarkan khotbah, lalu pulang tanpa bertegur sapa. Toko buku kami sering menjadi tempat singgah bagi mereka yang mencari jawaban atas pergumulan hidup. Namun, sering kali, jawaban itu tidak hanya ditemukan di halaman buku, melainkan dalam percakapan hangat dengan saudara seiman.
Inilah sebabnya kami mendorong budaya “After-Church Fellowship” (Persekutuan Setelah Ibadah). Jangan terburu-buru pulang. Ajaklah seseorang makan siang. Meja makan adalah tempat yang sakral. Di sanalah topeng-topeng dibuka, beban diceritakan, dan dukungan doa diberikan.
Menerapkan Prinsip Pelayanan “OKTO-88”
Untuk membangun komunitas yang hangat, kami ingin membagikan sebuah prinsip pelayanan sederhana yang bisa Anda terapkan di kelompok sel (cell group) atau keluarga Anda. Kami menyebutnya prinsip okto 88.
Ini bukan kode rahasia, melainkan sebuah panduan sikap hati:
- OKTO (Operasi Kasih Tulus & Orientasi): Pelayanan kita harus didasari oleh Kasih yang Tulus (tanpa pamrih) dan Orientasi yang selalu tertuju pada memuliakan Tuhan. Saat kita mengajak teman makan, tujuannya adalah melayani mereka, bukan sekadar hura-hura.
- Angka 88 (Simbol Kelimpahan & Kesinambungan): Angka 8 melambangkan hari baru (kebangkitan) atau kesinambungan (infinity). Kasih kita harus terus mengalir tanpa putus, seperti berkat Tuhan yang baru setiap pagi.
Melalui tautan di atas, kami memberikan referensi metaforis tentang bagaimana “Operasi Kasih” ini bisa diwujudkan dalam bentuk hidangan. Tautan tersebut mengarah ke situs yang membahas tentang Ramen Artisan. Mungkin Anda bertanya: “Apa hubungannya makanan Jepang dengan iman Kristen?” Hubungannya ada pada Dedikasi dan Kehangatan.
Jika Anda melihat bagaimana seorang ahli masak mempersiapkan kaldu ramen selama 12 hingga 24 jam dengan penuh kesabaran demi menghasilkan rasa yang sempurna untuk pelanggannya, itulah gambaran visual dari “Kasih yang Tekun”. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk melayani sesama dengan ketekunan yang sama. Membawa semangkuk sup hangat (seperti ramen) kepada teman yang sedang sakit atau berduka adalah wujud nyata dari prinsip okto 88 tadi: Kasih yang Tulus yang menghangatkan tubuh dan jiwa mereka.
Belajar Kesabaran dari Proses
Buku-buku rohani yang Anda beli di Durham Christian Bookstore mengajarkan tentang buah-buah Roh, salah satunya adalah Kesabaran. Dunia kuliner, seperti yang ditampilkan dalam referensi di atas, juga mengajarkan kesabaran. Tidak ada jalan pintas untuk rasa yang enak. Tidak ada jalan pintas untuk pertumbuhan rohani yang matang.
Sama seperti mi yang harus diuleni dan kaldu yang harus direbus lama, karakter Kristus dalam diri kita juga dibentuk melalui proses waktu, ujian, dan ketekunan. Jadi, ketika Anda menikmati makanan yang dibuat dengan proses panjang, jadikanlah itu momen refleksi: “Tuhan sedang memproses hidupku seperti masakan ini, agar menjadi harum dan berkenan di hadapan-Nya.”
Saran Praktis untuk Komunitas
Bagaimana mempraktikkan ini minggu ini?
- Beli Buku, Beli Makan: Setelah membeli buku renungan baru di toko kami, jangan langsung membacanya sendirian di kamar.
- Undang Sahabat: Ajak satu atau dua teman gereja.
- Cari “Comfort Food”: Pergilah ke tempat makan yang menyajikan makanan berkuah dan hangat (bisa soto, sup, atau ramen seperti inspirasi di atas).
- Berdiskusi: Diskusikan isi buku tersebut sambil makan. Biarkan kehangatan makanan mencairkan kekakuan, dan biarkan kebenaran Firman Tuhan menguatkan roh Anda.
Penutup: Makanan Jasmani yang Menguduskan
Rasul Paulus berkata, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10:31).
Di Durham Christian Bookstore, kami ingin Anda sehat secara utuh. Perkaya pikiran Anda dengan literatur Kristen yang bermutu. Perkaya tubuh Anda dengan makanan yang baik dan bergizi. Perkaya hati Anda dengan persekutuan yang tulus melalui prinsip okto 88.
Kiranya Tuhan memberkati persekutuan kita, memberkati meja makan kita, dan menjadikan kita saluran berkat bagi kota ini. Selamat membaca dan selamat menikmati persekutuan!